Batu Menangis



 Pada zaman dahulu kala di waktu yang sangat lampau, di dataran tinggi provinsi Kalimantan Barat terdapat sebuah bukit yang terletak jauh dari pemukiman penduduk dengan banyak penghuni, disana hiduplah seorang perempuan janda dengan kehidupan yang miskin. Dalam hidupnya, perempuan tersebut ditemani dengan kehadiran putri semata wayangnya yang sangat dia sayangi bernama Darmi.

Semenjak ditinggal pergi oleh sang ayah, kehidupan ibu dan putrinya, Darmi begitu sulit karena ayahnya meninggalkan mereka berdua tanpa adanya warisan sedikitpun. Namun, ibu tersebut, mampu merawat Darmi dengan sangat baik, ibu itu bekerja di sawah dan juga di ladang milik orang lain, menjadi buruh untuk mencari kebutuhan hidup.

Anak perempuannya itu tumbuh menjadi gadis dengan paras rupa yang sangat cantik. Gadis itu memiliki perawakan yang indah dan juga semampai, rambutnya panjang begitu lembut, lebat, dan terurai dengan indah hingga ujung mata kakinya dengan gaya mengikal hingga tepian. Rambutnya juga dipercantik dengan keberadaan poni yang tersisir rapih menyusuri keningnya dengan kehalusan yang lembut seperti batu cendana.

Namun, dibalik kecantikan paras dan rupanya, sifat dan hatinya tidak mampu menyamai kecantikannya. Antara hati dan perilaku sungguh teramat berbeda. Gadis itu jauh dari kata baik, dia sangat pemalas dan juga manja serta egois, segala hal yang dia inginkan harus terwujud.

Dia tidak pernah peduli dengan bagaimana situasi dan kondisi ibunya. Padahal ibunya selalu berusaha untuk memenuhi segala keinginan anaknya, walaupun dalam kondisi yang sulit. Setiap hari ibunya kesulitan hanya untuk mencari sesuap nasi.

Berbeda dengan ibunya, gadis itu pemalas dan tak pernah mau membantu atau sekadar meringankan beban ibunya. Dia hanya bisa bersolek setiap harinya, menjaga penampilannya agar tetap cantik.

Darmi Tak Pernah Membantu Pekerjaan Ibunya

Ibu seringkali mengajak Darmi untuk membantunya bekerja di sawah ataupun di ladang, tetapi Darmi selalu menolak ajakan dari ibunya.

“Anakku, bagaimana jika kamu membantu ibu di sawah? ibu butuh bantuan,” ajak sang ibu.

“Tidak mungkin aku bekerja di ladang, ibu tahu di ladang itu kotor dan juga sangat menjijikan, nanti kuku aku yang cantik ini bisa jadi tidak cantik lagi hanya karena lumpur,” jawab Darmi yang selalu diucapkan setiap kali ibunya meminta bantuan kepadanya

“Apa kamu tidak mau membantu atau sekadar kasihan pada ibu?” tanya ibunya lagi.

“Pekerjaan di ladang itu hanya cocok untuk ibu, aku tidak bisa bekerja di tempat kotor seperti itu. Ibu sudah keriput dan jelek, tidak ada yang bisa diperbaiki dari penampilan ibu dan juga sudah tidak ada yang mau terhadap ibu, jadi tidak perlu ibu mengeluh atas pekerjaan di ladang yang memang hanya cocok untuk ibu!” teriak Darmi.

Darmi Selalu Mengambil Upah Hasil Kerja Ibunya

Meskipun tak pernah dibantu oleh anaknya, tetapi sang Ibu tetap rajin untuk berangkat dan bekerja di sawah atau di ladang. Setiap selesai bekerja, Darmi seringkali menghampirinya dan meminta uang hasil bekerja dari ibunya untuk memenuhi apa yang dia inginkan.

“Sudah pulang kerja? mana uang dari hasil kerjanya?” tanya Darmi

“Aku harus terlihat cantik, bedak yang kupunya sudah habis, aku harus membeli yang baru.”

Meski dengan kesal karena anaknya hanya bisa menuntut, tapi sang ibu tetap memberikan uang dari hasilnya bekerja, demi menyenangkan hati anaknya itu.

Darmi dan Ibunya Pergi ke Pemukiman

Suatu ketika,, ibu mengajak putri semata wayangnya itu untuk menuruni bukit menuju desa dimana banyak pemukiman yang dipadati penghuni untuk berbelanja segala macam kebutuhan.

Desa tersebut terletak di lokasi yang teramat sangat jauh dari rumahnya. Tanpa kendaraan apapun sehingga untuk menuju desa itu, mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh dan cukup membuat lelah.

Seperti biasa gadis egois itu berjalan dengan pakaian yang sangat mewah dan cantik. Pakaian mewah dan riasan yang cantik itu, sengaja ia gunakan demi menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Gadis itu ingin menjadi pusat perhatian dan juga ingin dikagumi oleh semua orang.

Ibunya yang sudah tua, memiliki kondisi yang teramat sangat jauh berbeda dengan putrinya. Sembari membawa keranjang belanjaan, ibunya berpakaian sangat dekil dan kucel. Meskipun mereka berjalan berdampingan, tetapi tidak ada yang menyadari bahwa mereka berdua adalah ibu dan juga anak. Hal itu karena perbedaan yang sangat jauh dan mencolok serta mereka berasal dari daerah yang terpencil.

Setibanya di desa, benar saja semua orang tak berhenti memandangi gadis itu. Para pemuda juga dibuat terpesona dengan kecantikan gadis itu. Seolah tak pernah puas, para pemuda tak mampu dan tak berani mengalihkan pandangannya terhadap anak gadis itu barang sedetikpun.

Namun, dengan kehadiran ibunya yang berpakaian dekil dan kucel semua orang bertanya-tanya siapa gerangan perempuan yang mengikuti gadis cantik tersebut.

Di tengah kerumunan, gadis itu menjadi pusat perhatian para pemuda. Hingga akhirnya, ada seorang pemuda yang datang menghampiri dan memberanikan diri untuk menyapa gadis cantik itu.

Darmi Malu Mengakui Ibunya

“Wahai gadis cantik, siapakah gerangan perempuan yang berjalan di belakangmu dan mengikutimu sepanjang perjalanan? apakah dia ibumu?” tanya pemuda itu penasaran.

Gadis itu dengan tatapan kesal, memperbaiki posisi berdiri dengan gaya angkuh dan menjawab, “Bukan,” tegasnya dengan begitu sombong. “Sudah jelas, tak perlu kau tanya, perempuan ini adalah pembantuku.”

Bagaikan disambar petir perasaan sang ibu, begitu terluka dan sakit. Tetapi sang ibu masih berusaha untuk menahannya dari segala luka yang diberikan anaknya itu.

Darmi dan ibunya lantas melanjutkan perjalanan. Dengan kondisi yang sama dimana Darmi berjalan di depan mendahului ibunya. Tak lama kemudian, ada seorang pemuda lagi yang menyapa Darmi sembari menggoda gadis itu.

“Hai gadis manis. Siapa gerangan perempuan yang berjalan dibelakangmu itu? apa dia ibumu?” tanya pemuda itu.

“Tentu saja bukan, apakah kami terlihat seperti ibu dan anak? apakah perempuan dekil itu pantas jadi ibuku?” teriak Darmi

“Dia adalah budak,” lanjutnya.

Sang Ibu Berdoa Memohon Hukuman Bagi Darmi

Sang ibu kembali merasa terluka, Tapi ia terus berusaha menahan diri dan amarah. Namun sepanjang perjalanan begitulah yang dilakukan anaknya. Darmi selalu menyebut ibunya sebagai pembantu dan malu mengakui keberadaan ibunya.

Karena penghinaan tersebut terus berulang, dan sang ibu terus merasa terluka. Akhirnya sang ibu berhenti di pinggir jalan, dia berdoa duduk bersimpuh sambil menangis karena melihat perilaku anaknya yang begitu kejam.

“Kenapa berhenti bu? tanya Darmi

Namun, meski bertanya berulang kali, sang ibu tak jua menjawab pertanyaannya.

Sang ibu lantas berdoa, “Ya, Tuhan! Hamba memohon ampun bagi diriku yang lemah dan tak berdaya ini. Hamba sudah tak kuat menahan penderitaan ini. Hamba tak mampu menghadapi sikap angkuh putri hamba. Ya Tuhan! tolong berikanlah hukuman yang semestinya kepada putri hamba! Hukumlah putri hamba yang durhaka ini! hamba memohon kepadamu, Ya Tuhan!”

Atas kehendak dari tuhan Yang Maha Esa. Langit tiba-tiba mendung dan gelap. Petir menyambar di setiap sudut langit, seolah memperlihatkan amarah yang begitu besar.

Hujan deras datang mengguyur permukaan bumi. Secara perlahan tubuh Darmi menjadi kaku, dan tak bisa digerakan. Darmi yang merasakan itu menjadi panik dan mulai berteriak.

“Ibu ada apa dengan tubuhku? kenapa kakiku tidak bisa digerakkan? tanyanya sambil berteriak panik.

Sang Ibu tak menjawab pertanyaan itu dan melihat bagaimana tubuh anaknya perlahan mengeras.

“Maaf ibu, maafkan Darmi, Darmi berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan Darmi, maaf bu, maaf!” seru Darmi.

Darmi Berubah Menjadi Batu

Namun, segala permohonan maaf Darmi sudah terlambat, “nasi sudah menjadi bubur”. Hukuman atas kedurhakaan Darmi sudah tidak bisa diberi ampun. Perlahan, sedikit demi sedikit tubuh Darmi berubah menjadi batu. Dari ujung kaki hingga kepala tubuh Darmi semakin mengeras.

Sebelum anaknya berubah menjadi batu, sang ibu dapat melihat putrinya yang menangis sambil memohon ampun kepadanya. Dengan mata kepalanya sendiri, akhirnya sang ibu melihat, Darmi berubah menjadi batu, orang lain yang berada disana juga menyaksikan kejadian itu.

Setelah Darmi berubah menjadi batu, langit kembali menjadi cerah dan terang seperti sedia kala. Darmi yang sudah berubah menjadi batu, di letakkan ke pinggir jalan dan disandarkan ke tebing. Karena masyarakat mengetahui kejadian itu, batu tersebut pun menjadi legenda dan dijuluki batu menangis.

Comments